ABOUT ISLAM

MUSLIMAH

FILM ISLAMI



By. Putri Filzaty El Rahman

Perhatian perempuan Arab terhadap mode-mode Barat dan keinginan mereka untuk meniru perilaku dan tabiat perempuan Barat tidak diterima oleh para turis asing yang datang untuk mengunjungi Kairo, dan hal itu pun tidak mengangkat nama baik mereka di luar negeri, sebagaimana hal yang mereka sangka.
Pendapat ini telah diungkapkan oleh seorang wartawati Inggris yang berkunjung ke Kairo baru-baru ini. Dia menulis sebuah artikel di masalahnya. “saya sangat terkejut ketika sampai di bandara.

Sbelumnya, saya membayangkan bahwa saya akan bertemu dengan perempuan Timur dalam arti yang sesungguhnya, perempuan yang saya maksud bukanlah perempuan yang mengenakan hijab dan jubah, tapi perempuan Timur yang mengenakan pakaian kerja yang menggambarkan karakteristik dan perilaku Timur.

Dan saya tidak mendapatkan sedikitpun dari itu. Perempuan disana sama dengan perempuan yang Anda dapatkan ketika anda turun di bandara mana pun di Eropa. Pakaiannya sama persis, mode rambutnya sama. Dan dalam beberapa kesempatan, bahasa yang mereka gunakan pun sama, baik bahasa Perancis maupun Inggris. Saya terkejut karena perempuan Timur membayangkan bahwa modernitas dan kemajuan adalah dengan cara mengikuti perempuan Barat.

Mereka lupa bahwa mereka bisa berkembang dan maju pun dengan cara menjaga karakteristik ketimuran mereka yang indah.”
Pada edisi sabtu, 9 Juni 1962, Harian Jumhuriyah memuat laporan yang berjudul “Laranglah Ikhthilath dan Batasilah Kebebasan Perempuan,” kata seorang penulis yang berasal dari Amerika.

Wartawan Amerika, Helesian Stansbery, telah menghabiskan waktu beberapa minggu di Kairo untuk mengunjungi sekolah-sekolah, universitas-universitas, organisasi-organisasi kepemudaan, institusi-institusi sosial, pusat-pusat perkumpulan remaja, perempuan, dan anak-anak, serta beberapa pemukiman. Itu dilakukan dalam sebuah perjalanan ilmiah untuk mrncari permasalahan-permasalahan pemuda dan keluarga yang terjadi dalam masyarakat Arab.

Helesian adalah seorang wartawan yang sering melakukan perjalanan. Dia menjadi koresponden bagi lebih dari 250 koran Amerika. Dia memiliki kolom harian yang dibaca oleh jutaan orang yang membahas permasalahan-permasalahan pemuda di bawah usia dua puluh tahun. Dia telah bekerja di bidang penyiaran, pertelevisian, dan jurnalistik selama lebih dari dua puluh tahun. Dan dia telah mengunjungi semua negara di dunia pada usianya yang ke – 25 tahun.
Harian Jumhuriyahmenukilkan perkataan sang wartawan tersebut setelah sang wartawan menghabiskan waktu selama satu bulan di Republik Arab.

Berikut ini merupakan petikannya.
Masyarakat Arab adalah sebuah masyarakat yang sempurna dan benar. Seyogyanya, masyarakat ini berpegang teguh kepada tradisi-tradisi mereka yang membatasi pemuda dan pemudi mereka dengan batasan-batasan yang masuk akal. Masyarakat ini berbeda dengan masyarakat Eropa dan Amerika.

Kalian memiliki tradisi-tradisi arisan yang mengharuskan pembatasan terhadap perempuan, mengharuskan penghormatan terhadap ayah dan ibu, dan lebih dari itu, mengharuskan penolakan terhadap kebebasan Barat yang saat ini mengancam masyarakat dan keluarga di Eropa dan Amerika.

Batasan-batasan yang ditetapkan oleh masyarakat Arab bagi seorang gadis kecil-maksud saya adalah perempuan yang berusia di bawah dua puluh tahun-adalah sangat tepat dan bermanfaat. Karena itu, saya menasehatkan agar kalian berpegang kepada tradisi-tradisi dan akhlak-akhlak kalian, melarang ikhthilath, dan membatasi kebebasan pemudi. Bahkan, kembalilah kalian ke masa ketika hijab sangatlah dianjurkan. Ini lebih baik bagi kalian daripada kebebasan, kemerdekaan, dan senda-gurau ala Eropa dan Amerika.

Laranglah Ikhtilath sebelum mereka mencapai usia dua puluh tahun. Sungguh, kami telah banyak menderita karenanya. Masyarakat Amerika telah menjadi masyarakat kompleks yang dipenuhi dengan segala bentuk kebebasan dan kemaksiatan. Korban-korban ikhthilath dan kemerdekaan sebelum usia dua puluh tahun memenuhi penjara-penjara, trotoar-trotoar, bar-bar dan rumah-rumah rahasia.

Kemerdekaan yang kami berikan kepada pemuda-pemuda dan anak-anak kecil kami telah menjadikan mereka sebagai anggota geng-geng remaja, geng-geng James Dein, dan geng-geng narkoba.

Ikhthilath, kebebasan, dan kemerdekaan dalam masyarakat Eropa dan amerika telah mengancam keluarga serta telah menggoncang nilai-nilai dan akhlak. Gadis kecil dalam masyarakat modern bercampur baur dengan para pemuda menari Cha Cha, meminum alkohol, mengisap rokok, dan mengkonsumsi narkoba. Semua itu mereka lakukan atas nama peradaban, kemerdekaan dan kebebasan.

Hal yang mengherankan di Eropa dan Amerika bahwa Gadis kecil di bawah usia dua puluh tahun bermain, bersenda gurau dan bergaul dengan siapa saja yang mereka kehendaki di bawah pendengaran dan penglihatan keluarga mereka. Bahkan, mereka berani menentang kedua orang tua mereka, guru-guru mereka, dan pembimbing-pembimbing mereka. Mereka menentang orang-orang tersebut atas nama kemerdekaan dan ikhthilath.

Mereka menentang mereka atas nama kebebasan dan kemajuan. Mereka menikah dalamwaktu beberapa menit dan bercerai beberapa jam setelah itu. Samua itu tidak membebani mereka, lebih dari sekedar tanda tangan dan uang sebesar dua puluh sen. Jadilah mereka pengantin semalam atau beberapa malam. Lalu dengan mudahnya bercerai. Barangkali, setelah itu mereka akan menikah lagi, lalu bercerai lagi.

Tradisi dan akhlak masyarakat Arab memiliki dasar yang kuat, yaitu syari’at dalam agama Islam. Dimana Ikhthilath (pencampurbauran antara laki-laki dan perempuan) merupakan sesuatu hal yang sangat dijaga dalam pergaulan.

Apa yang terjadi dalam masyarakat di Indonesia saat ini, kurang lebih sama seperti yang terjadi dalam masyarakat Arab. Jangan pernah beranggapan, bahwa antara Masyarakat Arab dan Masyarakat Indonesia itu berbeda. Tidak! Kita adalah sama. Karena sama-sama memiliki agama, yaitu Islam. Jangan berpikiran bahwa gaya berpakaian masyarakat Arab itu hanya dipakai oleh masyarakat disana saja. Jangan! Justru cara berpakaian seperti itulah yang dianjurkan dalam Al-Qur’an Al Karim.

Terdapat Firman Allah dalam surat Al-Ahzab : 59 yang berbunyi :
"Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mumin : "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka."

Gaya berpakaian yang ada sekarang ini hanyalah bagian dari kehidupan masyarakat Barat yang mengedepankan kebebasan bagi perempuan. Model-model kerudung yang berbagai macam tanpa menutupi hal yang seharusnya wajib ditutupi (dada). Kemudian,model baju yang menampakkan lekukan tubuh.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

Dalam tulisan diatas, kita telah melihat sendiri bahwa yang kita banggakan selama ini terhadap masyarakat Barat itu adalah salah. Ternyata justru dari kalangan mereka sendiri, yaitu Helesian Stansbery yang menasehatkan “agar kalian berpegang kepada tradisi-tradisi dan akhlak-akhlak kalian, melarang ikhthilath, dan membatasi kebebasan pemudi. Bahkan, kembalilah kalian ke masa ketika hijab sangatlah dianjurkan. Ini lebih baik bagi kalian daripada kebebasan, kemerdekaan, dan senda-gurau ala Eropa dan Amerika.”
Semoga bermanfaat ! 

(sumber buku : Sayyid Sabiq dalam bukunya Fiqhus Sunnah penerbit Darul Fath)

No comments:

Post a Comment

BUDAYAKANLAH UNTUK MENULIS KOMENTAR